Hari Pendidikan Nasional : Saatnya Tolak Ujian Nasional?

 

Takut Jadi Korban UN

Upacara hari pendidikan nasional (Hardiknas) yang dilakukan di alun-alun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Timur (NTT) diwarnai unjuk rasa mahasiswa yang mendesak pemerintah mecabut ujian nasional (UN).

“Kami menolak pelaksanaan ujian nasional, karena sangat memberatkan siswa,” kata koordinator Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) Simon Mesak saat menggelar aksi demonstrasi, Jumat, 2 Mei 2014.

Mereka menilai pelaksanaan ujian nasional di Indonesia sangat memberatkan siswa yang berada di pedesaan yang sarana pendikan sangat rendah, sehingga tidak bisa melaksanakan ujian nasional. Memang kualitas pendidikan di daerah-daerah pedesaan belum bisa disetarakan dengan kualitas pendidikan di kota besar. Mulai dari sarana dan prasarana, tenaga pengajar hingga tingkat ekonomi siswa juga berbeda antara di desa dan di kota besar. Siswa yang berasal dari desa kebanyakan tidak mempunyai buku selengkap yang dimiliki siswa dari kota. Belum lagi sulitnya mendapatkan akses internet di desa terpencil. Sebagian siswa pedesaan juga perlu membantu pekerjaan orang tuanya sehingga tidak memiliki waktu yang banyak untuk belajar. Mereka juga menghabiskan waktu untuk berjalan ke sekolah, berbeda dengan siswa yang tinggal di antar jemput dengan mobil.

Sementara itu, ujian nasional diadakan tanpa memperhatikan perbedaan itu. Baik siswa dari desa maupun kota, sekolah elit maupun sekolah pinggiran, tetap mengerjakan soal dengan tingkat kesulitan yang sama. Standar kelulusan juga sama untuk semua sekolah di Indonesia.

“Ujian nasional hanya bisa untuk pulau Jawa, bagaimana dengan ujian di pedesaan yang disamakan dengan di ibu kota Jakarta,” katanya.

Karena itu, dia mendesak agar pemerintah segera mencabut ujian nasional sehingga tidak memberatkan siswa di pedesaan. Karena hal itu juga menyebabkan rendahnya prosentase kelulusan di daerah ini. “Salah satu faktor rendahnya tingkat kelulusan, karena ujian nasional,” katanya.

Pada perayaan Hardiknas tahun ini, dinas pendidikan dan kebudayaan NTT menggelar upacara yang diikuti ratusan siswa dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA), serta aneka lomba.

sumber: web [seputar-ntt] dengan tambahan

Written by JYN

Oke saya mulai serius di dunia persitusan ini hanya untuk mencari sedikit duit buat beli laptop atau smartphone. Biar gak keliatan gaptek lah.
Walaupun anak kuliahan cupu, ane tetep pengen pegang duit banyak coy. Udah gitu doang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *